BALI — Roket Zhuque-3 milik startup antariksa China, LandSpace, berhasil mendaratkan pendorong tahap pertama di darat pada 19 Agustus 2026. Keberhasilan ini menjadikannya perusahaan swasta China pertama yang menuntaskan pendaratan roket kelas orbital, menyaingi kemampuan yang selama ini dikuasai SpaceX milik Elon Musk. Pencapaian tersebut menandai langkah konkret ambisi China membangun roket yang dapat digunakan ulang.
Pendaratan berlangsung setelah Zhuque-3 lepas landas dari Dongfeng. Usai pemisahan, pendorong tahap pertama kembali ke Bumi dan mendarat di titik yang sudah ditentukan, sementara tahap kedua melanjutkan perjalanan menuju orbit. Manuver itu disebut berjalan sesuai rencana.
Di balik keberhasilan tersebut ada Dai Zheng, 42 tahun, komandan utama misi Zhuque-3 sekaligus wakil manajer umum LandSpace. Ia meninggalkan posisi mapan di program antariksa pemerintah China pada 2016 untuk bergabung dengan perusahaan rintisan yang saat itu belum terbukti.
Jejak Dai Zheng Sebelum Gabung LandSpace
Dai lahir dari pasangan guru di Provinsi Fujian. Ketertarikannya pada roket tumbuh sejak bangku sekolah dasar, saat ia merakit roket kardus yang mampu meluncur lebih dari 70 meter, lengkap dengan parasut agar bisa kembali ke tanah.
Pada usia 19 tahun, ia diterima di Fakultas Teknik Kedirgantaraan Universitas Tsinghua dan meraih gelar master bidang mekanika teknik. Tahun 2009, Dai bergabung dengan China Academy of Launch Vehicle Technology (CALT), BUMN pengembang utama roket China.
Di CALT, ia terlibat dalam program Long March dan menjadi salah satu arsitek utama Long March 5, roket angkut berat pertama China. Karier itu berjalan mulus hingga ia menyaksikan terobosan SpaceX.
Desember 2015, pendorong tahap pertama Falcon 9 kembali ke Bumi dan mendarat tegak lurus. Capaian itu memangkas biaya perjalanan ke luar angkasa secara signifikan. Dai kemudian berdiskusi dengan pendiri LandSpace, Zhang Changwu, soal potensi roket reusable mengubah industri.
Zhang mengajaknya bergabung. Dai menerima tawaran itu meski harus melepas posisi di CALT. "Saya memasuki sektor antariksa negara setelah lulus dan tak pernah berpikir akan keluar. Ada banyak ketidakpastian, tapi secara rasional saya tahu harus mengambil langkah itu," ujarnya.
Rangkaian Kegagalan Sebelum Sukses
LandSpace berdiri pada 2015. Oktober 2018, Zhuque-1, roket pertama yang ia kembangkan, gagal mencapai orbit pada penerbangan perdana. Kegagalan itu mendorong perusahaan mengembangkan mesin berbahan bakar cair sendiri yang kemudian melahirkan Zhuque-2.
Juli 2023, Zhuque-2 menjadi roket berbahan bakar metana pertama di dunia yang berhasil mencapai orbit. Dai lalu mengalihkan fokus ke Zhuque-3, roket yang dirancang dengan tujuan utama dapat digunakan kembali.
Uji coba pertama Zhuque-3 pada 3 Desember 2025 tidak berjalan mulus. Roket sepanjang 66 meter itu lepas landas dari Jiuquan, dan pendorong tahap pertamanya memang berhasil kembali. Namun manuver pendaratan gagal diselesaikan sehingga roket jatuh dan terbakar.
SpaceX pernah mengalami kegagalan serupa sebelum akhirnya berhasil. Dai dan timnya menghabiskan lebih dari delapan bulan menganalisis penyebab kegagalan tersebut.
Upaya itu terbayar. "Manuver pengereman akhir dieksekusi sangat indah, membawa roket berhenti stabil di landasan," kata Dai kepada Xinhua.
Tantangan Berikutnya: Terbang Ulang
Keberhasilan pendaratan baru langkah awal. LandSpace masih harus memastikan pendorong tersebut dapat terbang kembali secara andal. Target awal perusahaan adalah Zhuque-3 bisa dipakai ulang dua hingga tiga kali, dengan tujuan jangka panjang hingga 20 kali.
Dai memandang kemampuan ini sebagai bagian dari persaingan lebih luas antara China dan Amerika Serikat di ruang angkasa. "Kita tak boleh membiarkan generasi berikutnya menegadah dan hanya melihat satelit Amerika. Jika kita gagal mewujudkannya, generasi masa depan akan menoleh ke belakang dan merasa generasi pekerja antariksa kita gagal memikul tanggung jawab sejarah," tuturnya.
SpaceX masih jauh di depan dalam hal jumlah penerbangan dan kematangan teknologi roket reusable. Meski begitu, LandSpace optimistis bisa mengejarnya, dengan pendaratan Zhuque-3 sebagai pijakan menuju operasional roket yang bisa dipakai berulang kali.