BALI — Sutradara Adrian Buitenhuis menggarap dokumenter ini bersama produser Derik Murray. Ryan Reynolds ikut memproduseri melalui Maximum Effort. Bahan utamanya adalah rekaman audio pribadi yang direkam Hansen saat berusia 27 tahun, plus arsip footage yang belum pernah dipublikasikan.
Perjalanan 26 Bulan Keliling Dunia
Hansen lumpuh dari pinggang ke bawah akibat kecelakaan truk saat berusia 15 tahun. Pada 1984, ia memulai tur "Man in Motion" untuk menggalang dana dan kesadaran soal cedera tulang belakang.
Perjalanan itu memakan waktu 26 bulan. Hansen mendorong kursi rodanya dengan kekuatan tubuh bagian atas melintasi Amerika Serikat, Kanada, Uni Soviet, Timur Tengah, Asia, Selandia Baru, dan Australia. Ia menempuh jarak 40.075 kilometer sebelum kembali ke Vancouver pada Mei 1987.
Timnya berusaha menjaga kecepatan 70 mil per hari untuk mencapai target penggalangan dana. Berbagai kendala di lapangan coba disembunyikan dari media agar citra perjalanan tetap positif.
Rekaman Audio Pribadi yang Baru Terungkap
Buitenhuis menyebut ada banyak dinamika selama tur yang tidak terekam media. "Ada banyak hal yang terjadi selama tur; banyak perjuangan dan tantangan untuk mewujudkannya yang saya rasa media awalnya tidak mampu menangkap atau tidak diberi akses," ujarnya kepada The Hollywood Reporter.
Rekaman kaset pribadi Hansen menjadi temuan kunci. Produser Derik Murray mengungkap momen saat Hansen menyebut arsip tersebut. "Rick berkata, 'Oh ya, kaset-kaset audio itu, ya, saya simpan di brankas. Saya akan berikan,'" kenang Murray.
Amanda Hansen, yang menikah dengan Rick pada 1987, ternyata juga merekam pemikirannya sendiri selama tur. Ia awalnya enggan menyerahkan kaset itu. Rekaman-rekaman tersebut akhirnya masuk ke dalam film.
"Bukan hanya apa yang dia katakan, tapi ada perasaan di dalamnya yang sangat kuat. Kamu merasakan perjuangan, emosi, kejujuran mentah yang kamu dapat ketika tahu seseorang sedang berbicara pada buku harian yang tidak akan didengar orang lain," kata Buitenhuis.
Kisah Cinta di Tengah Perjalanan
Amanda Reid, fisioterapis Hansen, menjadi sosok penting di balik layar. Hubungan mereka tumbuh selama perjalanan, jauh dari sorotan media. Amanda berperan menjaga ketahanan mental dan fisik Hansen sepanjang tur.
"Kisah cinta mereka yang tumbuh selama dua tahun, dua bulan, dan dua hari itu menjadi bagian besar dari cerita," tambah Buitenhuis.
David Foster dan penyanyi Inggris John Parr menciptakan lagu "Man in Motion" dalam 20 menit untuk soundtrack film "St. Elmo's Fire". Lagu itu kemudian lekat dengan perjalanan Hansen.
Reaksi Hansen saat Menonton Film
Murray dan Buitenhuis menggelar screening privat untuk pasangan Hansen di tengah proses editing. Keduanya menonton dalam diam tanpa jeda.
"Mereka datang, duduk, dan menonton dalam keheningan total. Tidak ada jeda. Lalu film selesai, lampu menyala. Keduanya terlihat terguncang oleh apa yang mereka lihat, dan menangis," kenang Murray.
Kata pertama yang keluar dari mulut Rick Hansen adalah, "Saya tidak pernah—"
Dokumenter ini menyoroti perjuangan tim di balik layar, bukan sekadar pencapaian individu. Murray menyebut cerita yang belum pernah diangkat adalah apa yang terjadi pada 1985 ketika Hansen mengumpulkan teman-temannya, mendapatkan motorhome, dan memulai perjalanan tanpa GPS, ponsel, atau pengalaman traveling seperti itu.
Bagi penonton Indonesia, dokumenter ini bisa menjadi tontonan yang menggabungkan kisah ketahanan fisik dan dinamika tim. Film ini menambah daftar dokumenter olahraga dan kemanusiaan yang menyoroti sisi personal di balik pencapaian besar.