KLUNGKUNG — Ratusan pendekar dari berbagai penjuru Pulau Dewata memadati GOR Swacapura, Desa Gelgel, untuk menguji ketangkasan dalam latihan bersama lintas daerah. Agenda ini melibatkan atlet pilihan dari lima wilayah, yakni Kabupaten Klungkung sebagai tuan rumah, Bangli, Buleleng, Karangasem, dan Gianyar.
Wakil Bupati Klungkung Tjokorda Gde Surya Putra, yang juga menjabat Ketua DPC PSPS Bakti Negara Klungkung, memantau langsung jalannya laga uji tanding tersebut. Kehadiran para atlet dari luar daerah ini bertujuan menciptakan atmosfer kompetisi yang kompetitif bagi para pesilat muda.
Mengapa Sparing Partner Lintas Kabupaten Menjadi Kawah Candradimuka Atlet?
Wabup Tjok Surya menegaskan bahwa latihan tanding ini merupakan momentum krusial bagi para atlet untuk mengukur sejauh mana efektivitas latihan yang telah mereka jalani di masing-masing daerah. Bertemu dengan lawan yang memiliki gaya bertarung berbeda dianggap efektif untuk mematangkan psikologis atlet.
“Sparing partner ini bukan sekadar adu fisik, melainkan wadah untuk mengukur hasil latihan. Dengan bertemu lawan dari luar daerah, mental bertanding para atlet akan lebih teruji dan matang,” tegas Wabup Tjok Surya di sela-sela peninjauan laga.
Untuk menjaga kualitas teknis dan sportivitas selama uji tanding, panitia mengerahkan 15 wasit serta juri profesional. Standar penilaian yang ketat diterapkan agar para atlet terbiasa dengan regulasi yang berlaku pada kejuaraan resmi tingkat daerah maupun nasional.
Memperkuat Persaudaraan Menyamane Melalui Warisan Budaya
Selain fokus pada peningkatan prestasi dan teknik bela diri, ajang ini dirancang sebagai sarana konsolidasi kekuatan besar perguruan Bakti Negara di Bali. Pertemuan ini menjadi ruang untuk mempererat tali persaudaraan atau menyamane di antara sesama keluarga besar perguruan.
Wabup Tjok Surya berharap pola latihan lintas kabupaten ini mampu melahirkan bibit-bitit atlet berprestasi yang siap mengharumkan nama Bali di kancah internasional. Baginya, pencak silat memiliki nilai lebih dari sekadar olahraga prestasi karena mengandung identitas budaya nusantara.
“Pencak silat adalah warisan budaya. Melalui latihan intensif seperti ini, kita tidak hanya mencetak juara, tetapi juga memastikan generasi muda Bali tetap mencintai dan melestarikan bela diri asli nusantara,” tambahnya.
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga sore hari ini menunjukkan antusiasme tinggi dari para peserta. Melalui evaluasi dari para pelatih dan juri profesional di lokasi, para atlet diharapkan pulang membawa catatan teknis untuk memperbaiki performa mereka sebelum kalender kompetisi resmi dimulai.