DENPASAR — Populasi kunang-kunang di berbagai wilayah mengalami penurunan drastis akibat pencemaran kimia, sampah, dan polusi cahaya yang mengganggu sistem komunikasi serta reproduksi serangga bercahaya tersebut. Kondisi ini mendorong LSM Bring Back The Light untuk menawarkan pendekatan pariwisata yang tidak hanya mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga memulihkan ekosistem.
Dalam forum The Meru Eco Tourism Week ke-4 tahun 2026 di Sanur, Founder Bring Back The Light, Wayan Wardika, memaparkan konsep yang menyatukan konservasi kunang-kunang, pertanian regeneratif, budaya lokal, dan pariwisata bertanggung jawab.
Kunang-kunang sebagai Bioindikator Lingkungan
Menurut Wardika, kunang-kunang berperan penting sebagai penanda kualitas lingkungan. “Keberadaan serangga bercahaya tersebut menjadi penanda bahwa kualitas udara masih baik, sumber air tidak tercemar, serta kondisi tanah tetap sehat,” katanya, Sabtu (30/5/2026).
Sebaliknya, hilangnya populasi kunang-kunang di suatu wilayah menjadi sinyal adanya gangguan keseimbangan lingkungan. Ia menyebut tiga faktor utama penyebab penurunan populasi: pencemaran bahan kimia, sampah yang mencemari perairan dan lahan pertanian, serta polusi cahaya.
Polusi cahaya menjadi ancaman yang kerap luput dari perhatian. Kunang-kunang menggunakan cahaya sebagai alat komunikasi dan reproduksi. “Ketika lingkungan dipenuhi pencahayaan buatan yang berlebihan, kemampuan mereka untuk berkomunikasi menjadi terganggu sehingga berdampak pada proses perkembangbiakan,” beber Wardika.
Menggali Nilai Subak untuk Pertanian Regeneratif
Sebagai solusi, Bring Back The Light mengadopsi pendekatan pertanian regeneratif yang memiliki kesamaan nilai dengan sistem pertanian tradisional Bali, subak. Pendekatan ini tidak hanya fokus pada hasil produksi, tetapi juga menjaga keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan nilai-nilai budaya warisan leluhur.
Dalam praktiknya, aktivitas pertanian diarahkan untuk menjaga kelestarian lingkungan dan harmoni sosial, bukan sekadar meningkatkan hasil panen. Nilai-nilai spiritual dan budaya menjadi bagian integral dari sistem yang dijalankan.
“Prinsip tersebut menjadi landasan penting dalam membangun hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungan sekitarnya,” ujar Wardika. Dengan keseimbangan itu, masyarakat tetap bisa memperoleh manfaat ekonomi tanpa mengorbankan kualitas ekosistem.
Wisata Edukasi Siklus Hidup Kunang-kunang
Dalam model yang ditawarkan, kegiatan wisata tidak dirancang untuk mengeksploitasi sumber daya alam. Sebaliknya, aktivitas wisata justru diarahkan untuk meningkatkan kualitas lingkungan melalui konservasi dan edukasi. Masyarakat lokal dilibatkan secara aktif dalam setiap kegiatan, sehingga manfaatnya langsung dirasakan warga desa.
Saat ini, kunang-kunang menjadi daya tarik utama program wisata Bring Back The Light. Wisatawan diajak memahami siklus hidup serangga tersebut secara mendalam—mulai dari proses bertelur, menjadi larva, pupa, hingga dewasa. Pengunjung juga mendapat penjelasan mengenai upaya konservasi yang dilakukan untuk melindungi spesies dari ancaman kepunahan.