SEMARAPURA — Kunjungan kerja Menteri Lingkungan Hidup RI Mohammad Jumhur Hidayat ke TOSS Center Desa Kusamba menjadi penanda bahwa teknologi pirolisis di Klungkung masuk radar pemerintah pusat. Fasilitas itu mengolah sampah menjadi solar alternatif dan briket atau green coal dari material organik yang dipres. Pemkab Klungkung membangun fasilitas tersebut lewat kerja sama dengan PT Inpac Solution Indo dan PT Bali Bersih Bersinar.
Kapasitas 4 Mesin Capai 26-30 Ton Sampah per Hari
Setiap unit mesin pirolisis di TOSS Center Klungkung berkapasitas 750 kilogram sampah. Dengan empat unit yang terpasang, fasilitas itu ditargetkan mampu mengolah sekitar 26 hingga 30 ton sampah per hari. Produk turunannya bukan hanya bahan bakar cair, tetapi juga briket green coal.
Jumhur menilai pengelolaan sampah di Klungkung sudah mengarah ke konsep ekonomi sirkular. Sampah tidak lagi semata dipandang sebagai beban lingkungan, melainkan diolah menjadi komoditas bernilai jual.
"Saya ingin memastikan setiap pemerintah di daerah memiliki inisiatif. Dan ternyata Kabupaten Klungkung memiliki inisiatif yang baik dalam mengelola sampah dengan menerapkan konsep sirkulasi ekonomi," ujar Jumhur.
Manfaat Kredit Karbon untuk Industri Pengguna
Menurut Jumhur, produk hasil pirolisis bisa dimanfaatkan industri sebagai bahan bakar maupun sumber energi alternatif. Industri pengguna berpotensi memperoleh harga kompetitif sekaligus insentif kredit karbon dan pengurangan emisi dari pemakaian energi hijau.
Pemerintah pusat, kata dia, siap mendorong negosiasi harga dan distribusi hasil olahan. Sebab, kondisi geografis Bali yang merupakan pulau kecil menjadi tantangan tersendiri, sementara sebagian industri pengguna berada di Pulau Jawa.
"Kalau ini baik, kami bisa menduplikasi ini di berbagai tempat, mungkin tidak hanya di Bali, tapi di beberapa daerah bisa kita duplikasikan, kenapa tidak?" katanya.
Klungkung Belum Punya Offtaker Tetap
Bupati Klungkung I Made Satria menyebut kunjungan Menteri LH menjadi momentum untuk memastikan penerapan teknologi pirolisis di TOSS Center. Ia mengaku sudah melihat langsung respons Jumhur terhadap fasilitas tersebut.
"Kedatangan Pak Menteri ingin memastikan apakah betul ada teknologi pirolisis yang ada di sini. Beliau tadi melihat langsung dan mengagumi teknologi ini. Selanjutnya nanti ini akan direduplikasi di daerah atau provinsi lain," ujar Satria.
Kendala yang masih mengganjal adalah pemasaran. Hingga kini belum ada offtaker atau pembeli tetap yang menyerap hasil produksi pirolisis TOSS Center Klungkung.
"Sejauh ini belum ada offtaker yang jelas. Jadi tadi kami meminta Pak Menteri untuk membantu pasarnya, mungkin dengan BUMN seperti Pertamina dan lainnya," katanya.
Langkah Berikutnya
Pemkab Klungkung berharap pemerintah pusat ikut membuka akses pasar bagi produk pirolisis, termasuk menjajaki kerja sama dengan BUMN. Jika pasarnya terbuka, model pengelolaan sampah berbasis pirolisis di Desa Kusamba berpeluang direplikasi ke daerah lain di luar Bali.