Pencarian

NASA Tetap Andalkan New Glenn untuk Misi Artemis, Tapi Vulcan dan Falcon Heavy Jadi Opsi Cadangan

Jumat, 12 Juni 2026 • 23:30:31 WIB
NASA Tetap Andalkan New Glenn untuk Misi Artemis, Tapi Vulcan dan Falcon Heavy Jadi Opsi Cadangan
NASA tetap mengandalkan roket New Glenn untuk misi Artemis dengan Vulcan dan Falcon Heavy sebagai opsi cadangan.

Meski belum ada pernyataan resmi perubahan kontrak, pengakuan internal NASA bahwa pesaing seperti United Launch Alliance (Vulcan) dan SpaceX (Falcon Heavy) bisa menggantikan peran New Glenn menunjukkan keraguan terhadap kesiapan operasional Blue Origin. Seperti dikutip dalam laporan Rocket Report edisi 8.45, pertanyaan kunci yang diajukan pejabat NASA adalah: "Jika saya harus terbang dengan kendaraan lain, seperti apa bentuknya?"

Ini bukan sekadar skenario hipotetis. New Glenn, yang dirancang sebagai roket heavy-lift andalan Blue Origin, mengalami kegagalan total saat uji terbang yang juga menghancurkan landasan peluncuran LC-36A. Insiden itu memicu evaluasi ulang jadwal misi Artemis III, yang merupakan pendaratan manusia pertama di Bulan sejak era Apollo.

Isar Aerospace Tutup Pendanaan Besar, Jadwal Meluncur Mundur

Di sisi lain industri, startup peluncur asal Jerman, Isar Aerospace, mengumumkan penutupan pendanaan Seri D senilai 270 juta euro. Dana tersebut akan digunakan untuk "mendorong skala global dan meningkatkan produksi massal," sebagaimana dilaporkan European Spaceflight.

Namun, kabar pendanaan ini dibarengi dengan penundaan jadwal peluncuran kedua roket Spectrum mereka. Awalnya dijadwalkan lebih awal, percobaan peluncuran kini dijadwalkan ulang antara 15 Juni hingga 21 Juni tahun ini. Penundaan semacam ini menjadi pola umum di industri roket swasta, di mana pengujian darat seringkali memakan waktu lebih lama dari perkiraan.

Pelajaran untuk Industri Peluncuran Indonesia

Bagi para pengamat dan pelaku industri antariksa di Indonesia, situasi ini menegaskan satu hal: tidak ada roket yang "terlalu besar untuk gagal." Baik raksasa seperti SpaceX maupun pendatang baru seperti Isar Aerospace sama-sama menghadapi risiko teknis yang nyata. Keputusan NASA untuk menyiapkan opsi cadangan—Vulcan dan Falcon Heavy—menunjukkan bahwa strategi multi-sourcing menjadi kunci dalam misi bernilai miliaran dolar.

Indonesia, yang tengah mengembangkan roket pengorbit satelitnya sendiri, bisa mengambil pelajaran dari fleksibilitas kontrak semacam ini. Ketergantungan pada satu sistem peluncur, sekecil apapun risikonya, bisa berakibat fatal jika terjadi kegagalan seperti yang dialami New Glenn.

Apa Selanjutnya untuk New Glenn?

Meski NASA masih menyebut New Glenn sebagai kendaraan utama, komunitas antariksa akan mengawasi ketat langkah Blue Origin dalam memulihkan landasan dan menyelesaikan investigasi kegagalan. Jika proses remediasi memakan waktu lebih lama dari perkiraan, bukan tidak mungkin opsi cadangan akan segera diaktifkan.

Untuk saat ini, kalender peluncuran global masih diisi oleh roket-roket dari SpaceX dan ULA, sementara Isar Aerospace bersiap untuk uji terbang keduanya di pertengahan Juni. Industri peluncuran komersial tetap bergerak, meski dengan kecepatan dan risiko yang berbeda-beda.

Bagikan
Sumber: arstechnica.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks