JEMBRANA — Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan pembangunan Pelabuhan Perikanan Pengambengan tidak akan dilakukan secara bertahap. Anggaran yang disiapkan mencapai Rp 1,2 triliun atau sekitar 66,6 juta dolar AS untuk membangun seluruh fasilitas pendukung sekaligus.
Menurut Trenggono, pendekatan pembangunan menyeluruh itu dipilih agar setiap fasilitas di kawasan pelabuhan bisa terhubung dengan mulus. Ia menolak anggaran setengah-setengah yang berisiko membuat proyek tidak terintegrasi.
Mengapa Anggaran Tidak Dibagi Bertahap
Trenggono menyebut pembangunan terpisah-pisah justru menyulitkan integrasi antarfasilitas. Ia membandingkan dengan opsi anggaran yang lebih kecil, yang menurutnya tidak cukup untuk membangun pelabuhan sekelas standar internasional.
"Saya tidak ingin anggaran pembangunan Pengambengan hanya Rp500 miliar atau Rp600 miliar. Saya ingin membangunnya dengan benar sekaligus; kami ingin membangunnya agar benar-benar terintegrasi," tegas Trenggono.
Pendanaan besar itu akan dipakai membangun pelabuhan yang tidak hanya melayani perikanan komersial. Kawasan ini juga dirancang menampung kegiatan industri dan mendukung sektor pariwisata Bali.
Benoa Beralih Fungsi, Perikanan Komersial Pindah ke Pengambengan
Pemilihan Pengambengan sebagai lokasi ekspansi bukan tanpa alasan. Pelabuhan Benoa di Bali selatan dinilai sudah tidak cocok lagi untuk operasi perikanan skala besar karena letaknya berdekatan dengan kawasan konservasi mangrove.
Benoa kini diprioritaskan untuk mendukung sektor pariwisata. Fokus perikanan komersial dialihkan ke Pengambengan, yang akan dibangun mengikuti desain pelabuhan perikanan internasional di Australia, Jepang, Turki, Spanyol, dan sejumlah negara Eropa.
"Angka yang kami gelontorkan di sini tidak kurang dari Rp1,2 triliun. Ini akan menjadi pelabuhan yang sangat modern dan tertata dengan baik," ujar Trenggono.
Air Limbah Wajib Dikelola Lewat Sistem Terpusat
Trenggono menekankan standar lingkungan ketat sebagai syarat operasional pelabuhan. Semua fasilitas industri yang beroperasi di area pelabuhan wajib terhubung ke sistem pengolahan air limbah terpusat.
"Begitu ini dibangun, prasyaratnya adalah air limbah harus dikelola dengan baik, memastikan pelabuhan ini dapat berhasil menggabungkan potensi industri dan pariwisata," jelasnya.
Pengelolaan limbah yang benar menjadi kunci agar kawasan pelabuhan tidak mengganggu kawasan konservasi dan pariwisata di sekitarnya. Pemerintah berharap Pelabuhan Pengambengan yang modern mampu mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan bagi komunitas pesisir Jembrana.
25.000 Lapangan Kerja, Warga Bali Diminta Disiapkan
Pembangunan pelabuhan diperkirakan menciptakan sekitar 25.000 lapangan kerja. Trenggono mendesak pemerintah daerah segera menyusun program pendidikan dan pelatihan vokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan industri pelabuhan.
"Para pekerja di sini idealnya adalah orang Bali. Kita tidak boleh bergantung pada pekerja migran dari Jawa. Masyarakat lokal Bali-lah yang seharusnya mendapatkan pekerjaan-pekerjaan bagus ini melalui pelatihan dan pendidikan yang tepat," katanya.
Pemerintah daerah belum merinci jadwal pelatihan vokasi maupun target penyelesaian proyek. Yang jelas, pembangunan Pelabuhan Pengambengan menjadi salah satu proyek maritim terbesar di Bali dalam beberapa tahun terakhir.