BADUNG — Panen raya bawang merah varietas Super Philip di Subak Delod Sema menghasilkan 8 hingga 9 butir berukuran besar per rumpun. Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Badung, I Made Agus Aryawan, menyebut capaian itu membuktikan Badung potensial untuk budidaya bawang merah sesuai arahan teknis Dinas Pertanian.
Dari total 12 hektar pengembangan hortikultura di Badung, Sading mendapat porsi 2 hektar. Hasilnya dinilai sangat memuaskan.
Bawang Merah Diposisikan sebagai Komoditas Strategis Penahan Inflasi
Agus Aryawan menegaskan bawang merah masuk kategori komoditas strategis daerah. Pergerakan harganya kerap menjadi pemicu utama fluktuasi inflasi.
Ketersediaan stok lokal yang stabil dinilai ampuh mencegah lonjakan harga di pasaran. Pemkab Badung pun memperkuat langkah menjaga pasokan pangan sekaligus menekan laju inflasi daerah.
Perumda Pasar Disiapkan Jadi Penyerap Hasil Panen
Pemkab Badung fokus membangun ekosistem rantai pasok terintegrasi dari hulu hingga hilir. Perumda Pasar disiapkan bertindak sebagai offtaker yang mendistribusikan komoditas ini hingga ke sektor pariwisata.
Langkah itu untuk menjaga stabilitas harga di tingkat produsen agar tidak merosot saat panen raya.
Petani Didorong Rotasi Padi dengan Hortikultura
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung, Anak Agung Raka Sukadana, mendorong petani merotasi tanaman padi dengan komoditas hortikultura secara berselang-seling. Rotasi penting menjaga kesuburan tanah dan mengendalikan keasaman lahan akibat penanaman padi terus-menerus.
Sebagai bentuk keberlanjutan, petani di Subak Delod Sema telah menyepakati pembentukan kelompok tani khusus hortikultura.
Program Berlanjut hingga 2027, Menyasar Petang dan Abiansemal
Pengembangan kawasan bawang merah diproyeksikan berlanjut hingga tahun 2027. Perluasan lokasi menyasar wilayah Kecamatan Petang dan Abiansemal.
Capaian produksi ini diharapkan memperkuat ketahanan pangan daerah di luar komoditas utama beras.